Membuat Anak Lebih Empati, Kita Harus Melakukan Kesalahan

Posted on

Setiap orang tua pasti ingin memiliki anak yang unggul, jadi para orang tua menyiapkan guru, membelikan elektronik terbaru, mengatur kelas setelah jam sekolah dan hal lainnya untuk membantu mereka mendapatkan anak-anak golongan A. Tapi apakah para orang tua berfokus pada hal-hal yang benar ? Menurut data terakhir tidak benar.

parenting-6

Keterampilan emosional, mengelola emosional, berkolaborasi, sukacita dan empati adalah rahasia tersembunyi dari keberhasilan sekolah dan apa yang anak-anak pada abad ke-21 butuhkan untuk berkembang. Tapi para orang tua modern terlalu sering menghadapkan pada sisi raport sekolah dan jarang sekali peduli untuk mengajarkan kepedulian kepada anak-anaknya.

Menurut laporan terbaru, berpikir kritis, mengambil keputusan dan memecahkan masalah yang kompleks masih diperlukan keterampilan untuk membuat dunia global berkembang. namun sama pentingnya dengan keterampilan seperti kecerdasan emosional dan empati. Empati, kemampuan untuk menempatkan diri dalam “sepatu orang lain”. Ini adalah landasan untuk menjadi bahagia dan sukses. Itu akan membuat anak-anak menjadi lebih menyenangkan, lebih tangguh pemimpin yang lebih baik, lebih memiliki hati nurani.

emphaty-1

Namun tingkat empati para remaja “dicelupkan” 40% hanya dalam 30 tahun. Hampir 75% mahasiswa pada zaman sekarang menilai bahwa diri mereka kurang empati, lebih cenderung untuk mencoba memahami teman-teman mereka dengan membayangkan perspektif mereka dan kemungkinan besar tidak akan peduli kepada orang-orang yang kurang beruntung. Sebuah survei 10.000 remaja, 80% memilih “prestasi tinggi” sebagai pilihan utama mereka dan hanya 20% memilih “care¬†kepada orang lain”. Laporan yang sama menemukan bahwa empat dari lima remaja mengatakan bahwa orang tua mereka lebih peduli tentang prestasi daripada kepedulian antar sesama.

emphaty-2

Ini menjadi pelajaran penting bagi para orang tua. Para orang tua terlaku fokus kepada akademis yang nantinya akan membuat anak menjadi tidak bahagia. Depresi dan rasa cemas telah melonjak di kalangan remaja dan sekarang menyerang anak-anak muda lainnya. Para remaja yang mengalami stres berada pada tingkat yang lebih tinggi dari hasil yang dilaporkan oleh orang dewasa.

Ketika rasa empati berkurang, agresi dan kekejaman dapat meningkat. Bullying telah diintesifkan untuk tingkat “bullycide” adalah istilah baru yang digunakan untuk mengidentifikasi pemuda atau remaja intimidasi korban yang bunuh diri karena tekanan emosional yang berat yang dilakukan oleh teman-teman mereka.Cyberbullying juga terus meningkat. Penelitian menunjukkan bahwa cyber bully menampilkan emoati yang kurang efektif. Empati mungkin strategi terbaik untuk mencegah baik online dan offline kekejaman antar teman.

bullying

Kabar baiknya adalah kita bisa mengajarkan empati kepada anak-anak seperti membaca dan menulis, tetapi harus dimulai sejak usia dini. Anak pada abad 21 memerlukan kedua sisi laporan. Sekarang adalah saatnya untuk menempatkan sisi lain dari raport pada agenda para orang tua. Dunia baru yang berani untuk anak-anak kita dalam menghadapi tuntutan yang kita lakukan.